.

.

Zaman Sudah Berubah


Mbah Ribut:
             Sejak Presiden Soeharto lengser dari kursi kepresidenan, Mei 1998, Indonesia memasuki gerbang perubahan, yang dikenal sebagai Era Reformasi, 1998 – 2014. Era ini, sesungguhnya merupakan tanda berubahnya zaman, dari pemerintahan yang sebelumnya bersifat memerintah menjadi melayani. Dan selama 16 tahun reformasi menjadi masa transisi gaya pemerintahan tersebut.

SESUAI kehendak alam, tak ada perubahan yang sifatnya instan. Sebuah pohon ada masanya untuk berbuah, tidak bisa hari ini ditanam, besok berbuah. Demikian pula transisi pemerintahan,




ketika Soeharto turun, lalu tidak semuanya berubah seperti yang diinginkan. Bahkan, jika dihitung dari kejatuhannya, masa transisi itu butuh waktu 16 tahun, 1998 – 2014.
Dalam masa transisi itu, ada kelompok yang masih ingin bernostalgia dengan pemerintahan zaman Soeharto, sampai memunculkan gambar Soeharto yang mengatakan, “Piye, Le, isih enak jamanku to?” (“Bagaimana, Nak, masih enak zaman (pemerinthan)ku kan?”). Namun, yang kontra mengatakan, “Enak di zaman Pak Harto, harga-harga murah, termasuk harga nyawa juga murah.”
Meskipun demikian, ditandai dengan pro dan kontra, zaman terus melaju dengan perubahan yang dibawanya. Di daerah-daerah, baik di tingkat pemerintahan kota, kabupaten, maupun provinsi, mulai muncul walikota, bupati, dan gubernur yang amanah. Mereka tidak menempatkan diri sebagai pejabat-pejabat seperti di era Soeharto, melainkan sudah beralih sebagai pemimpin yang melayani publik. Tanda-tandanya, pemimpin tersebut menjadi agen perubahahan dengan ciri berintegritas, transparan, akuntabel, dan bersih dari korupsi. Pemimpin-pemimpin itu datang dari berbagai partai politik (parpol), meski parpol-parpot tersebut masih banyak dirundung dengan masalahnya masing-masing.
Dari “perubahan zaman” itu muncul seorang pemimpin yang namanya Joko Widodo atau akrab disapa dengan Jokowi. Mbah Ribut pernah meramalkan, orang ini akan menjadi Presiden Indonesia, periode 2014-2019 dan akan terpilih kembali dalam periode keduanya. Ia meniti kariernya dari menjadi Walikota Solo dan Gubernur DKI Jakarta yang akhirnya menjadi Presiden RI terpilih untuk periode 2014 -2019. Uniknya, keputusan Komisi Pemilihan Umum (KPU) ini digugat pesaingnya, Prabowo Subianto, sehingga menjadi berlarut-larut persoalannya.
            Semula, Prabowo mempersoalkan hasil quick count yang memenangkan Jokowi. Ia akan mengakui kemenangan Jokowi, setelah real count diumumkan KPU. Setelah, KPU hampir selesai menghitung suara, Prabowo menarik diri, dan akhirnya menyampaiakan gugatan hasil pemilu presiden (pilpres) ke Mahkamah Konstitusi (MK). Langkah Prabowo ini terkesan mengulur-ulur waktu untuk mengakui kekalahanannya dalam kontestasi pilpres. Seharusnya, ia sudah mengucapkan selamat kemenangan kepada Jokowi, sejak hasil quick count, 9 Juli 2014.
            Dengan kenyataan ini, Mbah Ribut semakin yakin, perubahan zaman telah mencapai puncaknya. Jokowi sebagai penanda bahwa perubahan zaman sudah terjadi secara nasional. Jokowi pantas disebut sebagai “pemimpin putra sulung reformasi”. Sementara Prabowo menjadi “pemimpin  putra bungsu Orde Baru”.  Ulah Prabowo dengan konco-konconya ini hanyalah pemurnian dari perubahan zaman tersebut.
            Pemimpin dari keturunan “darah biru” sudah berubah menjadi pemimpin yang berasal dari rakyat biasa. Pemimpin, yang dulu ditandai masih keturunan raja-raja atau para tokoh nasional, sudah digantikan oleh pemimpin yang amanah. Baik dari keturunan “darah biru” atau bukan, tidak menjadi pertimbangan penting lagi bagi rakyat yang memilihnya.
            Seandainya Prabowo menyadari hal ini ....

Jakarta, 21 Agustus 2014

Salam,


Mbah Ribut
           
 Catatan:
-          Bagi pengunjung/pembaca Mbah Ribut, mulai sekarang dapat berkonsultasi secara pribadi.
-          Surat elektronik (emai) dapat dikirimkan ke  mbahribut1@yahoo.com dan (bila perlu) lengkapi dengan foto Anda.

Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger