.

.

Pulung Presiden

<![endif]-->
Mbah Ribut:
Pulung Presiden

            Seseorang untuk terpilih menjadi lurah saja membutuhkan “pulung”, apalagi untuk menjadi presiden. Jokowi sebenarnya sudah memperoleh “pulung presiden”, namun dia belum yakin betul, sehingga terpilihlah Jusuf Kalla (JK) untuk mendampinginya.

            JIKA menggunakan “terminologi pulung”, orang yang sudah memperoleh pulung tersebut, sebenarnya tidak perlu khawatir. Jika, dia memperoleh “pulung presiden”, dia pasti terpilih menjadi presiden pada Pilpres, 9 Juli 2014.  Pada awalnya, Jokowi akan menggunakan “terminologi  pulung” sepenuhnya. Indikasinya, koalisi yang identtik dengan “olitik dagang sapi”alias bagi-bagi jabatan/kekuasaan ditolaknya. Ia menggunakan istilah “kerja sama tanpa syarat”. Karena itu, Golkar membatalkan untuk koalisi dengan PDI Perjuangan, partai utama yang mengusung Jokowi menjadi presiden.
            Namun, pada detik-detik terakhir pengumuman siapa  pendampingnya sebagai Wakil Presiden, Jokowi mulai berhitung secara rasional, dan keluarlah nama JK. Secara hitung-hitungan rasional Jokowi – JK merupakan pasangan ideal untuk elektabilitas mereka. Pilihan ini disambut gegap gempita para pendukungnya. Di beberapa daerah, relatif lebih cepat, dibentuk berbagai posko kemenangan Jokowi– JK. Seandainya Jokowi memilih orang lain, Abraham Samad, Ketua KPK misalnya, untuk mendampinginya, juga tidak apa-apa. Bukankah dia sudah mengantongi “pulung presiden”?
            Dengan keputusannya tersebut, dari sudut spiritualis Mbah Ribut, Jokowi telah menurunkan “kepedeannya” sebagai penerima “pulung presiden”. Jokowi berkompromi dengan realitas yang ada. JK menjadi cawapres dengan aroma capres. Dia bisa kembali menjadi “matahari kembar” seperti yang dilakukannya ketika dalam pemerintahan SBY-JK. Keputusan ini menunjukkan bahwa Jokowi adalah manusia biasa. Dia harus bertumpu dengan rasionalitas. Dan, JK adalah orang pilihan yang tepat!
             Namun, sebagai penerima “pulung presiden”, Jokowi masih ada peluang untuk mempertahankan pulung tersebut. Nanti, bisa dilihat dalam Jokowi menempatkan menteri-menterinya. Apakah ada “politik dagang sapi” atau dia akan membentuk “kabinet kerja”. Semoga “pulung presiden” tetap ada di tangan Jokowi.
            Hanya sayang, Mbah Ribut harus menunggu lima tahun lagi, untuk melihat “pulung presiden” ini sungguh-sungguh menjadi kekuatan presiden untuk membawa rakyat Indonesia sejahtera dan adil. Semoga pada Pemilu 2019 nanti telah terjadi “revolusi mental” dan tak ada lagi “politik dagang sapi”, “politik uang”, dan sejenisnya.

Jakarta, 20 Mei 2014

Salam,




Catatan:
-          Bagi pengunjung/pembaca Mbah Ribut, mulai sekarang dapat berkonsultasi secara pribadi.
-          Surat elektronik (email) dapat dikirimkan ke  mbahribut1@yahoo.com dan (bila perlu) lengkapi dengan foto Anda.
Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger