.

.

Buruh Lawan Majikan

BERITAJAWA.com - 
Mbah Ribut: 

            Kamis, 1 Mei 2014, untuk pertama kalinya, di Indonesia memberlakukan hari libur nasional terkait dengan perayaan Hari Buruh se-Dunia yang dikenal sebagai May Day itu. Tahun-tahun sebelumnya, May Day selalu dirayakan dengan demo-demo para buruh.
            SEMBARI menikmati aksi-aksi demo para buruh dalam menyambut May Day 2014, tentu hanya melalui siaran televisi, Mbah Ribut tertarik juga untuk ikut nimbrung bicara soal buruh. Seorang teman Mbah Ribut yang di zaman Orde Baru dulu menjadi aktivis memberikan advokasi para buruh mengatakan, “Buruh itu ya siapa saja yang menjadi orang upahan.” Dengan demikian, karyawan (kecuali PNS), profesi apapun, dari segala level, selama menjadi “orang upahan” dia adalah buruh. Sementara, mereka yang memberikan upah dan memiliki andil (saham) perusahaan digolongkan sebagai majikan.
            Baik buruh maupun majikan memiliki kepentingan masing-masing. Kepentingan itu diupayakan untuk dipadukan. Namun, Mbah Ribut berkeyakinan, kedua kepentingan itu sulit dipadukan, meski sekalipun pemerintah Indonesia, di bawah Presiden SBY, sudah memutuskan Hari Buruh se-Dunia yang jatuh setiap 1 Mei sebagai hari libur nasional. Bagi rakyat Indonesia, terutama para karyawan yang adalah juga buruh itu, mulai tahun 2014, hari liburnya tambah satu hari. Konon, Indonesia merupakan negara yang memiliki hari libur paling banyak.
            Mencermati demo para buruh di berbagai tempat, terlebih di berbagai daerah, aksi mereka tak jauh dari tuntutan kenaikan upah. Sementara, para majikan, dengan berbagai alasan, menghindari tuntutan para buruhnya. Biasanya, para majikan memasalahkan keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak terlalu besar, maka kurang bisa memenuhi tuntutan kenaikan upah dari para buruhnya. Sebagai amunisi terkahir, majikan sering menilai buruhnya sebagai tenaga yang kurang memiliki skill, sehingga berakibat rendahnya produksi, dampak selanjutnya upah buruh juga kecil.
            Untuk menyatukan kepentingan antara buruh dengan majikan ini, lalu dihadirkan pihak ketiga, yaitu pihak pemerintah sebagai “juru damai” atau mediator yang memediasi kepentingan antara buruh dan majikan. Sejauh ini, pembahasan yang dilakukan para buruh, majikan, dan pihak pemerintah, tak pernah ada kata sepakat yang memuaskan semua pihak. Dari kondisi ini, sering pihak-pihak tertentu mempolitisirnya. Buruh, karena jumlahnya banyak, mungkin ribuan atau jutaan orang, kemudian mejadi variabel penting untuk kepentingan dalam keterpilihan Pemilu, baik Pemilukada, Pileg, maupun Pilpres.
            Sebenarnya persoalan ini bisa lebih sederhana, jika buruh dan majikan sama-sama mau berbagi, satu terhadap lainnya. Transparansi, saling terbuka dengan permasalahan masing-masing, menjadi kata kunci “perdamaian” tersebut. Hubungan kerja antara Kepala Rumah Tangga dengan pembantunya, seperti pembantu rumah tangga, pekerja kebun, juga sopirnya, telah terjadi kesepakatan-kesepakatan saling berbagi ini, baik secara tertulis maupun tidak tertulis.
Namun, masalahnya menjadi kompleks, jika ada “majikan semu” yang ikut bermain dalam persoalan ini. Yang dimaksud “majikan semu” adalah mereka yang sebenarnya buruh, tapi merasa sebagai majikan atau menjadikan dirinya bagian dari (kepentingan) majikan. Dia bisa karyawan biasa, staf (manajer menengah), atau juga pengurus yayasan. Orang-orang ini biasanya selalu membela kepentingan juragan. Seorang staf bisa menjadi sangat pelit dan kejam terhadap bawahannya demi membela kepentingan juragan.
Bahkan, ada pengurus yayasan yang menyamakan dirinya sebagai pemilik yayasan, lalu keluarlah kebijakan-kebijakan dari dirinya sendiri yang sangat merugikan karyawannya, misalnya soal pengurangan fasilitas kesehatan karyawan yang sebelumnya sudah bagus. Bisa menjadi ironis, jika yayasan tersebut adalah yayasan sosial keagamaan. Orang-orang yang berperilaku seperti itu, sebenarnya buruh, tapi mengaku (merasa) majikan, dan ia mewakili dirinya sendiri untuk kepentingannya sendiri.
Lalu, bagaimana solusinya? Kembali Mbah Ribut melakukan penerawangan. Hasilnya? Buruh dan majikan seperti minyak dan air, tak dapat disatukan, disenyawakan. Biarlah keduanya berjalan sesuai kepentingannya masing-masing. Mereka akan sama-sama bertahan bersatu (meski semu), jika masih saling membutuhkan. Buruh masih butuh upah dari majikan. Majikan masih butuh tenaga buruh.
Kondisi ini akan membaik, jika ada toleransi. Toleransi artinya yang besar dan kuat solider dengan yang kecil dan lemah. Di sini, majikan termasuk golongan besar dan kuat, maka sesungguhnya merekalah yang lebih dahulu memahami kepentingan para buruhnya. Kalau ini terjadi, tidak ada lagi demo-demo untuk merayakan May Day.
Selamat Hari Buruh 2014! 

Jakarta, 1 Mei 2014
Salam,


Mbah Ribut
 
Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger