.

.

Indonesia atau Nusantara

BERITAJAWA.com - 
Dalam acara Kick Andy yang ditayangkan di Metro TV pada Jumat malam, 3 April 2014, mengangkat Arkhan (maaf, jika salah menulis nama), seorang narasumber, bergelar doktor, yang membahas tentang “nama dan peruntungannya” lewat perpaduan antara metafisika dan ilmu IT. Yang menarik, banyak seniman besar  seperti Butet, Slamet Rahardjo, Mohammad Sobari, Djaduk, dan juga Indra Sjafri, pelatih Timnas PSSI U-19, mempercayai dan memanfaatkan konsultan Dr Arkhan  tersebut.
    BAGI Mbah Ribut sendiri, yang paling menarik dan penting, usulan dari narasumber tersebut adalah agar nama Indonesia diubah menjadi Nusantara. Disebutkan nama Indonesia terlahir pada 17 Agustus 1945 dan diprediksikan akan terus bergolak sampai akhirnya, negara bernama Indonesia akan terhapus atau hilang di dunia.
    Sementara, Indonesia akan tetap ada di dunia jika berganti nama menjadi Nusantara yang terlahir pada 17 Agutus 2014. Artinya, si konsultan menyarankan agar pada perayaan kemerdekaan Indonesia ke-69, tahun ini, 17 Agustus 2014, sekaligus ditandai dengan pergantian nama Indonesia menjadi Nusantara. Dengan perhitungan-perhitungan yang dilakukan narasumber, ia yakin jika menggunakan nama Nusantara, Indonesia akan tehindar dari perpecahan dan rakyatnya berkemakmuran.
    Tampaknya hal itu tidak mungkin dilakukan tahun 2014 ini. Bisa jadi baru tahun depan, 2015, pada usia Indonesia ke-70, saat pemerintahan sudah berganti. Jadi mengingat pergantian nama negara itu lebih mudah. Ketika Indonesia berusia ke-70, berganti nama Nusantara, dan dengan pergantian nama itu, rakyatnya menjadi cinta damai dan sejahtera!
    Sungguh menakjubkan tayangan Kick Andy malam itu. Sebab, Mbah Ribut menjadi teringat kembali kata seorang pewaskita di sebuah kota di Jawa Tengah yang menuturkan tentang nama Indonesia dan Nusantara kepada Mbah Ribut, 20 tahun silam. Ketika itu, Mbah Ribut tengah mengunjungi beliau untuk bertanya tentang keadaan negeri kita yang “tenang-tenang menghanyutkan”, lalu dilanjutkan dengan sejumlah kerusuhan, antara lain pembakaran rumah-rumah ibadah.
    Menurut beliau, kata Indonesia itu penuh patriotik, berbicara menang-kalah, dan sejenisnya yang menghasilkan kesan: setiap usaha harus menghasilkan pemenang dan harus ada pihak yang dikalahkan. Sejak itu, Indonesia menganut mayoritas harus menjadi pemenang segalanya. Sementara kelompok minoritas harus pandai-pandai untuk menjaga diri agar tidak menjadi amukan dari mayoritas. Supaya tidak dilibas.
    Dalam sejarah Indonesia sendiri menjelaskan tentang hal ini. Ketika proklamasi dideklarasikan dibumbui dengan perang kemerdekaan. Banyak pahlawan yang gugur untuk ini. Lalu, pemerintahan datang dan pergi silih berganti. Namun, hampir setiap Presiden dari Bung Karno, Pak Harto, Pak Habiebie, hingga Gus Dur, turun dengan tidak normal atau ditentukan dengan konsep menang-kalah. Hanya Ibu Mega (itupun menggantikan Gus Durun yang diturunkan) dan Pak SBY yang bisa dikatakan pergantian normal.
    Dalam memerangi korupsi misalnya, semakin tampak kepatriotisan tersebut, bagaimana terlihat dengan jelas “pertikaian” antara kelompok (baca: partai politik) yang saling jegal, baik melalui kata-kata atau bersandiwara untuk menolak, menghindar, dan akhirnya mengakui “kerja korupsi mereka”, sampai pada pelemahan KPK melalui pembuatan undang-undang di parlemen. Anehnya, banyak juga orang yang mau menjadi caleg dari partai-partai yang tidak bebas dari korupsi tersebut dalam Pemilu 2014 ini dengan mengatakan, “Kami anti korupsi!”
    Lalu, bagaimana dengan nama Nusantara? Menurut pewaskita tersebut, Nusantara adalah “nama” asli negeri Indonesia ini. Kutukan atas perbuatan Ken Arok, menyebabkan tujuh turunan bangsa Nusantara harus “saling membunuh” demi kelompoknya sendiri-sendiri. Ini dapat  terlihat dalam sejarah kerajaan-kerajaan lama Nusantara, kemudian penjajahan yang dilakukan bangsa Eropa, sampai akhirnya lahirlah Indonesia. Menurut pewaskita tersebut, Indonesia merupakan keturunan (generasi) ketujuh atau terakhir dari kutukan atas perbuatan aib Ken Arok itu.
    Selama menjalani kutukan, bangsa Nusantara “digadaikan” dengan berbagai nama seperti Mataram, Demak, Sriwijaya, dan raja-raja Nusantara lainnya, lalu Hindia-Belanda, dan terkahir Indonesia. Tanda-tanda “penggadaian” itu antara lain ditunjukkan oleh Indonesia yang tetap mempertahankan Pancasila sebagai dasar negara dan Bhineka Tunggal Ika. Selama “zaman penggadaian” ini, ada kelompok-kelompok lain yang mencoba menggantikan ideologis Nusantara itu. Maka, terjadilah “budaya menang-kalah”.
    Kalau nanti, Indonesia dikembalikan ke yang empunya, yakni Nusantara, zaman berubah menjadi lebih baik. Jika ini benar, kita mendapatkan kutukan selama tujuh turunan akibat ulah Ken Arok yang membunuh Tunggul Ametung karena berslingkuh dengan Ken Dedes, istri Tunggul Ametung itu, memakan waktu sekitar 5 abad atau 500 tahun lebih (dihitung sejak Nusantara Lama – Penjajahan Belanda – Republik Indonesia)!
    Yang membuat Mbah Ribut heran, sepertinya ada korelasi atau “benang merah”  antara ide Dr Arkhan dan pewaskita yang Mbah Ribut temui 20 tahun silam itu untuk mengusulkan penggantian nama, Indonesia menjadi Nusantara.
     Mbah Ribut setuju saja agar kita dapat hidup dengan damai dan sejahtera.

Jakarta, 5 Maret 2014
Salam,

Mbah Ribut
Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger