.

.

Silang Pendapat Penyembuhan Alternatif

BERITAJAWA.com -


            Pekan lalu, media massa, khususnya televisi, meramaikan silang pendapat mengenai penyembuhan alternatif yang dipicu oleh para pasien yang merasa ditipu oleh seorang penyembuh alternatif. Bahkan, masalah ini sampai diangkat dalam acara Debat di sebuah televisi swasta nasional.

            SILANG pendapat tentang penyembuhan alternatif ini, sebenarnya bukan baru kali ini terjadi dan mencuat secara nasional. Sebelumnya, hal serupa pernah pula menjadi diskusi publik. Pemicunya, biasanya si pasien tidak sembuh setelah berobat ke alternatif, lalu ia mengadukannya ke pihak yang berwajib. Kemudian, orang-orang (yang merasa) pakar keparanormalan saling mengemukakan pendapatnya. Ada yang pro dan kontra tentang penyembuhan yang sering disebut praktik perdukunan itu.
            Menurut Mbah Ribut, silang pendapat tersebut tak akan pernah berakhir, selama orang-orang yang melakukan perdebatan, tetap bersiteguh dengan pendapatnya pada posisi masing-masing. Sebenarnya ada nasihat bijak yang mengatakan, “Jika engkau melihat dengan sudut pandang 180 derajat, engkau hanya melihat persoalan dari kepentinganmu saja. Namun, jika engkau melihat dengan sudut pandang 360 derajat, engkau akan melihat persoalan secara menyeluruh dan akan menemukan solusi yang paling tepat.”
            Dalam “dunia persilatan” yang menganut “pandangan 360 derajat” disebut pendekar yang mengampu sifat adil, bijaksana, berpikir, dan bertindak dengan memperhitungkan segala aspeknya. Sementara penganut “pandangan 180 derajat” adalah orang-orang yang berpikir sepihak, demi kelompok atau kepentingannya. Biasanya, orang-orang tersebut disebut “para pegundal”. Pertarungan para pendekar melawan para pegundal ini menjadi kisah melegenda dalam “dunia persilatan” entah dalam bentuk bacaan roman, komik (cerita bergambar), film laga, atau kehidupan nyata. Pada akhir cerita, pendekarlah yang keluar sebagai pemenang.
            “Dunia persilatan” termaksud bisa mewujud dalam bentuk apa saja, semisal dunia politik, perdagangan, olahraga pencak silat, dan juga perihal penyembuhan alternatif.
            Jika dilihat dari “pandangan 360 derajat”, mereka yang datang ke penyembuhan alternatif karena ingin disembuhkan penyakitnya. Demikian halnya mereka yang datang ke dokter, tak beda tujuannya. Datang ke penyembuh alternatif maupun ke dokter, mereka, para pasien, sama-sama ingin disembuhkan dari penyakitnya masing-masing.
            Lalu, ketika sang pasien tidak merasa disembuhkan melakukan protes kepada penyembuh alternatif. Sedangkan, mereka yang datang ke dokter, jika tidak sembuh, cukup ke dokter lain untuk memperoleh second opinion (pandangan dari dokter lain). Ditambah, biasanya, pasien baru mendatangi penyembuh alternatif, setelah beberapa kali ke dokter dan rumah sakit, namun belum tersembuhkan juga.
            Jujur saja, penyembuh alternatif maupun dokter sama-sama punya niatan luhur untuk menyembuhkan penyakit pasiennya. Namun, jujur saja, keduanya tidak bisa memberikan jaminan pasiennya untuk sembuh, maksimal hanya mengusahakan untuk sembuh. Di plakat yang  menempel pada tempat obat dari apotik saja tertulis “semoga lekas sembuh”, bukan ditulis “pasti Anda sembuh’.
            Mbah Ribut menjadi tertawa sendiri ketika melihat acara Debat di televisi swasta nasional itu. Yang pro “penyembuhan alternatif” berbicara tentang organisasinya yang beranggota paranormal dan memiliki kode etik segala, kok seperti profesi dokter, pengacara, dan wartawan. Bahkan, pembicara yang adalah ketua asosiasi paranormal tersebut memberikan jaminan untuk membantu klien (penyebutan pasien) dalam usaha pengembalian uang klien, jika tidak sembuh. Coba, kalau niatan ini diberlakukan juga bagi para dokter?
            Sama menggelikan dengan pembicara yang kontra “penyembuhan alternatif” yang memeragakan bagaimana trik para paranormal bak tukang sulap dengan alat peraga buah kelapa di dalamnya sudah diisi benda-benda lain. Sama sekali tidak mendidik bagi pemirsa, karena semangatnya menjatuhkan lawan dan ingin memenangkan pendapatnya sendiri. Untunglah pada acara Debat tersebut, ada seorang paranormal yang bersaksi bahwa di antara pasiennya berprofesi dokter. Kesaksian tersebut dapat langsung menjawab posisi “penyembuhan alternatif”.
            Bagi Mbah Ribut sendiri, tak mau terpancing dengan perdebatan yang tak berujung ini. Keduanya, penyembuhan alternatif dan penyembuhan medis (memanfaatkan dokter), memiliki niatan mulia, yakni menyembuhkan penyakit pasien. Yang memprihatinkan bagi Mbah Ribut adalah soal biaya penyembuhan tersebut. Ternyata, keduanya, baik penyembuhan alternatif maupun penyembuhan medis, sama-sama berbiaya mahal, sampai puluhan juta rupiah. Sehingga orang miskin dilarang sakit!
            Nah, kalau sudah begitu, kita perlu “penyembuhan ketiga” setelah medis dan alternatif, yakni penyembuhan yang cespleng dan murah. Mbah Ribut yakin, penyembuhan tersebut masih ada di antara kita, yakni para penyembuh alternatif yang menolak bayaran mahal, juga para dokter yang melayani di pelosok-pelosok kampung. Merekalah pendekar sejati dalam penyembuhan!

Jakarta, 14 Maret 2014

Salam,

Mbah Ribut

 




 
Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger