.

.

Belajar Meditasi

BERITAJAWA.com -  


Trend sekarang banyak orang atau kelompok yang menawarkan meditasi dengan segala spesialisasinya. Banyak pula orang yang tertarik mengikutinya. Yang mengagumkan, mereka yang tertarik belajar meditasi datang dari lintas agama.

TERLEPAS motif dan tujuan para pelatih meditasi menjajakan keunggulan, misalnya meditasi untuk kebugaran tubuh, kesehatan, ketenangan batin, dan sebagainya, ada unsur positif yang perlu diapresiasi. Mereka yang terlibat meditasi, baik sebagai pelatih maupun 


yang dilatih, berasal dari aneka latar belakang berbeda seperti pendidikan, kepercayaan (agama), bahkan ekonomi. Saat mereka bermeditasi bersama, hilanglah semua atribut. Yang ada adalah aku (manusia) sedang berhadapan dengan Tuhan. Dalam kondisi ini, tak ada lagi sekat-sekat. Sebagai komunitas meditasi, mereka menyatu dalam kebersamaan.
            Meditasi merupakan suatu cara bagaimana kita dapat menenangkan pikiran dan hati kita. Setelah pikiran dan hati menjadi tenang akan banyak diperoleh manfaat seperti kebutuhan untuk refleksi, terkait evaluasi diri untuk bekal di kemudian hari. Dalam meditasi yang mendalam digambarkan kesatuan antara manusia dengan Tuhan seperti kesatuan antara ombak dengan air. Manusia adalah ombak dan Tuhan adalah air. Tiada ombak tanpa air. Ombak sebagai dunia fenomena dan air adalah dunia neumena atau fondasi, subtansi, atau jantung hati dari dunia  fenomena.
Dunia neumena tak bisa dijelaskan sepenuhnya dengan konsep atau kategori, namun bisa digambarkan melalui simbol-simbol. Misalnya, orang bisa mengalami kelegaan dan penyembuhan ketika menghirup udara dan menjamah fondasi udara dengan napas yang dalam. Kelegaan dan penyembuhan itu bisa dialami saat itu juga sebagai pengalaman bersentuhan dengan energi Ilahi atau pengalaman Energi Kesadaran Murni.
Contoh lain, dunia fenomena seperti napas dapat dibedakan antara napas perut atau dada; napas pendek atau panjang; tarikan napas atau keluaran napas; napas bau atau harum. Dalam dunia neumena orang hanya bernapas dengan penuh kesadaran. Tidak peduli, ia bernapas di pingir jalan yang penuh polusi atau di ruangan ber-AC. Di sana, ia bisa bersatu dengan napasnya sampai napasnya menghilang dengan sendirinya. Kemudian, ia mengalami kebebasan, kedamaian, dan keindahan. Di sanalah, ia menjamah fondasi napasnya. Ia bisa menyadari bahwa Tuhanlah yang bernapas dalam dirinya, setiap saat, setiap momen.
Penjelasan yang indah yang lain tentang meditasi ini bisa kita temui di bermacam-macam aliran meditasi, baik yang sifatnya universal maupun berlatar belakang agama tertentu. Namun, nampaknya semua aliran meditasi, sejauh bisa ditangkap Mbah Ribut, ingin menerangkan bagaimana cara mencapai ketenangan, sehingga bisa diibaratkan pencapaian seperti antara ombak dengan air tadi.
Dari konsep ini, maka lahirlah sejumlah tata cara dalam meditasi. Pada umumnya, meditasi dilakukan dengan duduk bersila, merasakan helaan napas, dan menenangkan pikiran dengan sejumlah cara. Setelah mencapai ketenangan, pemeditasi baru merasakan fenomena, berharap terjadi sesuatu atas dirinya atau yang diinginkannya. Tentang cara bermeditasi, Mbah Ribut menyerahkannya pada para pemeditasi sendiri. Carilah cara yang cocok. Banyak cara meditasi yang ditawarkan.
Yang perlu bagi Mbah Ribut ingatkan adalah Anda harus berkonsentrasi dan fokus terhadap subyek sekaligus obyek meditasi Anda. Subyek sekaligus obyek meditasi Anda, boleh diafirmasikan, diungkapkan dengan diucapkan di batin Anda. Boleh sekali atau berkali-kali (repitisi). Yang penting, Anda tidak kehilangan konsentrasi dan fokus. Setelah Anda memperoleh ketenangan, selanjutnya terserah Yang di Atas ingin menganugerahkan apa terhadap Anda.
Pengalaman Mbah Ribut bermeditasi, memunculkan kesadaran bahwa manusia itu memiliki sikap yang sama terhadap Tuhan, hanya cara menyikapinya yang berbeda-beda, lewat beragama atau kepercayaan tertentu. Sebaliknya, Tuhan sendiri mempunyai sikap yang sama juga terhadap manusia, yakni cinta-Nya yang tak terbatas kepada semua manusia tanpa pandang bulu.
Menurut Mbah Ribut, keutuhan atau kesatuan orang-orang yang pernah bermeditasi itu merupakan perwujudan dari buah-buah meditasi, antara lain seperti “ombak dengan air”. Kita masing-masing adalah ombak yang saling mengalun dan ternyata menjadi sama ketika berubah menjadi air, menemui pondasi kita sebagai manusia. Anda setuju?
Kalau Anda setuju, suatu kelak, kita bisa melakukan meditasi bersama. Memang ada keinginan Mbah Ribut membuka kelas meditasi yang bermaksud untuk menjaga “persatuan dan kesatuan” baik sebagai bangsa Indonesia maupun bangsa manusia.

Jakarta, 17 Maret 2014

Salam,


Mbah Ribut





                                                           

Share this article :
 
About Us | Privacy Policy|Term Of Use| Contact Us
Copyright © 2011. beritajawa.com - All Rights Reserved
Proudly powered by Blogger